Mungkin ini sudah termasuk cerita yg basi, tapi aku hanya ingin menulis apa yg ada dan aku alami kemarin. Kenapa aku memelih judul di atas? Kronologi ceritanya begini, kemarin tepatnya tanggal 3 februari aku berkunjung ke SMA ku yg telah mengantarkan aku ke dunia perkuliahan yg saat ini aku jalani, untuk apa? Aku bersama teman – teman yg lain dari berbagai universitas mengadakn seminar dan expo universitas se Jatim untuk mengatasi kegalauan mereka dalm memilih PTN dan menghadapi SNMPTN kelak. Tapi bukan itu yg ingin aku ceritakan disini, aku sebenarnya gak pernah bermaksud untuk membuka aib ( bisa dibilang pengalaman yg kurang enak aja sih ) seorang temanku. Saat mendengar cerita ini dari seorang temanku, rasanya seperti mendapat pukulan terkeras dalam hidupku.
Ini kisah seorang temanku yg belum bisa melanjutkan kuliah, kenapa? Apa dia tidak pintar ? DIA SANGAT PINTAR! Lalu? Semua hanya karena kertas yg selalu didewakan oleh manusia terutama pejabat – pejabat Negara. Yah,,, UANG! Awalnya dulu yang kutahu temanku ini (sebut saja “ US “ ) memang tidak ketrima di PTN jalur undangan yg memang dia mengambil 2 universitas yg sangat ternama , ITB dan UGM. Kalian tahu apa reaksiku dan teman lainnya soal keputusan hebatnya mengambil 2 universitas ini ? “ KAMU PASTI LOLOS” dengan piagam- piagam lomba yg ia miliki kami yakin dia pasti lolos. Piagam ? jangan Tanya, dia punya banyak. Meskipun aku gak pernah sekelas dengannya, tapi dia adalah salah satu teman baikku dan teman belajarku saat di kosan dulu. Hidupnya? Kepribadiannya? Kurasa dialah akhwat yang mendekati sempurna, dari ibadah wajib yg ia kerjakan sampai sunnah yg gak pernah bolong. Kepribadiannya , dia termasuk teman yg paling disegani di sekolah ataupun kosan, kalau kami mengalami kesulitan dalam berbagai macam pelajaran, Tanya ke “US” pasti bakal beres, semacam google hidup (ha?? Wes serius ini ceritanya). Keluarganya? Memang dia dari kalangan yg kurang mampu, ibunya hanya seorang penjual kue di SD yang tak jauh dari rumahnya, dia punya seorang kakak yg baru lulus kuliah di universitas brawijaya dengan gelar ST (sarjana Teknik) tepatnya teknik arsitek dan baru mendapat kerja di pabrik meubel di Surabaya (menurut info yg ku trima sih gitu) dan seorang adik yg masih sekolah, tepatnya aku masih kurang tahu.
Saat lulus dari sekolah, kami semua pun sibuk dengan mencari tempat bimbel SNMPTN tulis (untuk jag – jaga seumpama jalur undangan gak ketrima) , tapi apa? “US” saat ku Tanya “ kamu gak bimbel?” “ aku belajar dirumah aja, aku punya soal-soal banyak kok dirumah bekas kakakku dulu, lagian aku juga harus bantu emakku “ (dalam hatiku saat itu, yah dia mah pinter, belajar sendiri pun pasti sanggup) . saat pengumuman snmptn undangan pun dari sekolah ku bnayk yg gak lolos termasuk aku dan “US”. Padahl itu sudah H-7 pelaksanaan SNMPTN tulis! Saat SNMPTN tulis yg memang lokasinya di universitas jember (itu yg terdekat dari sekolah kami) yg lokasinya gak jauh dari bimbelku, aku tau dia menumpang di salah satu kos temenku yg lain. Setelah aku alami mas- masa pahit menunggu pengumuman SNMPTN tulis, akhirnya dating juga, meskipun bukan di universitas yg emang aku idamkan sejak kecil, tapi setidaknya aku masuk di pilihan ke 2 ku. Temanku “ US” yg aku sms dulu saat itu, dan apa balesannya? Amsih teringat jelas di otakku , “ hahahaha, aku gak keterima Ky, mungkin emang bukan jalanku untuk kuliah tahun ini, selamat ya,,,” bukankah banyak jalur masuk PTN setelah ini ? tapi itu biayanya sngat mahal, ku pikir dia gak mungkin ambil jalur itu.
Saat aku perjalanan menuju Malang dengan kereta ekonomi, gak sengaja aku bertemu dengannya di kereta, aku disampingnya menyimak semua ceritanya yg begitu hebat, setelah kutanya dia ngapain ke Malang ? dia jawab “ aku ketrima jalur mandiri di universitas mu Ky, Alhamdulillah “ MANDIRI ? DI UNIVERSITASKU ?? itu mahal banget masya Allah anak ini nekat berat. Terus dia segera menambahkan “ aku ini ntar langsung kerktorat loh mau nyari keringananan, abisnya aku udah daftar ulang 2 jt kemaren, dan biaya masuknya 22 jt loh, bahkan aku gak cerita ke emakku kalo aku ketrima jalur ini, 2 jt buat daftar ulang itu aku dikasih mbakku .. “ “ semangat yah, bisa kayaknya dapat keringanan, wajahmu ntar bikin lebih melas lagi biar dapet keringan yg gede , hahahaha “
Malamnya aku dapet sms dari “US” ,”Ky, aku gak dapet keringanan, padahal aku sampe sore loh disana tdi, aku taun depan aja deh,, kamu kuliah yg rajin ya, bahagiakan orang tuamu dan jangna bilang siapa siapa soal ini,,, semangat ya Ky J “ air mataku langsung jatuh, gak ngrti harus ngapain, dia anak pintar kok bisa gitu ? aku langsung menhubungi teman baiknya dan menceritakan semua dari awal, dia juga bingung, akhirnya aku sms salah satu guru ku di SMA yang emang dekat dengan “US” dan kami semua, aku dan “US” adalah anak club dan OSN kimia (gak usah ditanya aku juara apa nggak ya ,), dan guru itu adalah guru kimia, aku Tanya pendpat beliau, beliau bilang sap bantu kok dengan guru yg lainnya. Tapi setelah beliau Tanya berapa nominal yg dibutuhkan ? beliau langsung mengalihkan pembicaraan dan menyuruh si “US” untuk kuliah di UIN MALANG, sayang jurusannya emang gak ad yg sreg di hati temanku satu ini, yaahhh
Selang waktu berjalan ku tahu akhir – akhir ini dia ikut bimbel di jogja dan kos disana (aku tau di FB) , tapi salah. Aku abaru tahu kemarin saat teman baikknya juga dating di acara SMAku itu, ternyata “US” ke jogja itu gak bawa uang sama sekali tanpa mendapt ijin dari orang tuanya, dia kerja disana sbg pembantu rumah tangga dengan bayaran dapat tempat tinggal gratis dan makan gtratis plus di biayai bimbel. Baik benar majikannya, tapi itu gak bertahan lama, sekarang majikanya berubah, “US” gak boleh keluar rumah, bahkan untuk sms pun harus sembunyi-sembunyi, masya Allah,,,
Aku yakin “us” ntar bakalan jadi orang yg sangat hebat, mungkin aku gak bisa bantu dengan materi karena aku juga bukan dari kalangan kelas atas. Seandainya pejabat di INDONESIA bisa lebih memperhatikan rakyat kecil ini, seandainya mereka gak rebutan kursi jabatan sampe kalender seharga 1,3 jt pun dimasukkan anggaran Negara, kursinya yg seharga 24 jt itu, padahal saat rapat mereka hanya tidur, dan seandainya aku orang yg kaya, mungkin semuanya akan berubah. Aku pernah ingat kata ibu ku sewaktu kecil dulu “ orang yg bisa kuliah itu Cuma ada 2 macam nduk, orang yg pinter dan orang yg kaya “ tapi itu gak berlaku buat temanku yg satu ini. Semoga ini menjadi gambaran buat kita semua, bahwa kuliah bukan hanya sekedar mengejar IPK tinggi, tapi lulus kuliah, abdikan pada Negara tanpa melihat untung rugi soal materi ,tanpa itung-itungan gaji apalagi tunjangan yg macem - macem.
Untuk temanku “US”