Keadaan ini enggan berikan jalan, apa yg kurasa kini telah
percuma …
Mengikhlaskan segala sesuatu yg pernah kita miliki itu
memang susah, terlebih hal itu belum menjadi milik kita dan kita sudah harus
mengikhlaskan… jauh lebih susah. Yah logikanya merasa kehilangan itu akan ada
jika kita pernah memilikinya. Tapi ini , aku , gak pernah milikin “hal itu” dan
harus benar-benar rela ditinggalkan “hal itu” tadi.
Mimpi. Yah aku punya mimpi. Bukan sekedar mimpi anak-anak
biasa, kenapa ? karena pemikiranku sangat berbeda dengan lain kebanyakan orang.
Mataku melihat yg tak terlihat oleh orang lain, pikiranku memikirkan yg tak
akan pernah terpikirkan oleh orang lain, dan telingaku mendengar yg memang
hanya aku yang bisa mendengar. Yah.. aku berbeda. Semenjak mengenal “dia”
mipiku kuibaratkan layaknya balok-balok yang bertuliskan macam-macam mimpiku. Telah
kususun perlahan, agar tidak terjatuh saat aku menyusunnya. Dan “dia” datang,
alangkah senangnya hatiku, “dia” mengajarkan ku banyak hala dan membantuku
menemukan balok-balok mimpiku yang sudah hilang. “dia” juga membantu
menyusunnya bersamaku, meletakkan balok bertuliskan “cinta” di atas balok
impianku yang lain.
Tak selang berapa lama, tak tahu karena hal apa. “dia”
datang membawa kabar yg sungguh membuat hati ini marah ! “dia” berpikir ini
hanya mainan anak kecil, mainan ! yah hanya mainan. “dia” hancurkan balok-balok
impianku yg telah tersusun rapih ini. Termasuk balok bertuliskan “cinta” yang
waktu itu ia letakkan sendiri. “dia” pergi membawa balok “cinta”ku itu, dia
mengambilnya. Kulihat dari sudut tempat aku menyusun balok impian ini, ya.. aku
melihat ia menyerahkannya pada orang lain. Kutunduukan wajahku, mencoba ku
tahan tangisan yang sama sekali tak ingin ku keluarkan. Tak bisa! Susah ! ini
terjadi di depan mata !
Tersungkur aku di tempat ini, melihat balok-balok impianku
telah tercecer kemana-mana. Apa yang harus ku lakukan ? mengejarmu yang telah
bersama orang lain itu ? menunggumu ? mengharapmu ? berharap aku yg jadi
pemenang, tapi tak bisa, aku tak punya cukup “modal” untuk maju ke persaingan. Lagian
“dia” sudah menentukan kan siapa pemenangnya ?
Tak tahu, bahkan sampai saat ini balok-balok impianku ini
belum aku susun kembali. Aku butuh teman dan juga waktu. Akan kupantaskan
hatiku untuk mendapatkan seseorang yg akan membantuku menyusun kembali balok
ini sampai akhir tanpa penghianatan. Tanpa ditinggalkan.
Oky,
Malang, 3 juni '12
08:59
08:59
